Rabu, 26 Mei 2010

Online, Dentang Kematian Surat Kabarkah?

Grace Natali-07120110023

Belakangan, sering terdengar di telinga kita surat kabar-surat kabar di negeri Paman Sam terpaksa gulung tikar. Bahkan mereka yang tak lagi terbit itu bukan berasal dari kalangan surat kabar yang bisa dipandang sebelah mata. Banyak dari mereka telah berusia lebih dari 100 tahun.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Banyak hal yang melatarbelakanginya. Krisis ekonomi, hilangnya pendapatan dari iklan, serta berkurangnya oplah yang drastis membuat mereka kian merugi. Parahnya, keberadaan media gratis yang beredar beberapa tahun belakangan ini juga turut ambil bagian dalam menggeser keberadaan surat kabar yang tergolong media ‘sepuh’ ini.

Ternyata hal ini tak hanya menimpa koran-koran kecil saja. Koran sekaliber The Seattle Post-Intelligencer yang telah terbit sejak 1863 pun terkena imbasnya. Senin, 16 Maret 2009, mereka menerbitkan edisi terakhir dan resmi mengakhiri sepak terjang mereka di sunia percetakan. Begitu pula halnya dengan The Christian Science Monitor yang berusia 100 tahun dan Rocky Mountain News, koran nomor satu di Colorado yang berusia 150 tahun itu. Namun, apakah mereka mati begitu saja?

Tidak. Nyatanya, mereka hanya berpindah media saja. Dari media cetak ke online. Seperti yang sudah diguratkan di atas, surat kabar berbayar kini kalah saing dengan media-media gratis. Media online termasuk di dalamnya. Media-media online ini menyediakan berita-berita yang tak berbeda dengan yang disediakan oleh surat kabar bahkan lebih cepat dan update. Selain itu, jika orang-orang membaca berita yang ada di media online mereka pun tak dikenai biaya. Hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang berpindah media. Media cetak kehilangan pelanggan. Seakan-akan surat kabar telah kehilangan daya tariknya. Mereka seperti tak lagi bertaring.

Lantas, apakah ini dentang kematian bagi surat kabar? Saya pikir jawabannya tidak. Belum tentu. Media cetak memang sepertinya tergeser oleh kecepatan arus perkembangan zaman. Ketidakmampuannya untuk meng-update berita secara cepat menjadi salah satu titik kelemahannya. Biaya produksi yang mahal pun membuatnya harus mengenakan biaya pembelian pada para pelanggan. Namun, pembahasan berita yang mendalam, analisis-analisis berita yang kritis, tak dapat dikalahkan oleh media lain. Orang-orang pasti akan cenderung menilik pada surat kabar jika ingin mengetahui perkembangan suatu kejadian secara mendalam.

Namun demikian, surat kabar pun harus tetap peka dengan perkembangan zaman yang semakin maju seperti ini jika tak mau akhirnya tutup seperti surat kabar di atas. Mereka sebaiknya tidak menganggap media online sebagai pesaing namun justru mengamini mereka sebagai teman dan peluang baru. Media online sebagai inovasi dalam berbisnis. Ya, peluang dengan adanya konvergensi media.
Konvergensi media atau penyatuan antara media cetak, televisi, radio, dan online menyebabkan masyarakat dapat mengakses informasi dengan sangat lengkap. Informasi tersebut dapat berupa gambar, audio, teks, bahkan video sekalipun. Selain itu, dalam mengakses informasi tersebut masyarakat tak hanya berlaku sebagai pihak yang pasif seperti yang terjadi selama ini. Ketika mengakses informasi, masyarakat dapat langsung meresponi berita yang sedang mereka baca, lihat, dan dengarkan. Media menjadi interaktif dan masyarakat dapat memilih berita yang ingin mereka nikmati.

Media online menjadi primadona dalam hal ini. Dan karenanya banyak media Amerika yang menganggap mereka sebagai perebut pangsa pasar. Walaupun pada akhirnya saat tutup, mereka juga serta merta berpindah ke media online tersebut. Padahal jika sedari awal mereka menjadikan media online sebagai pendukung bagi media surat kabar mereka belum tentu hasilnya demikian.

Media cetak harus sadar dalam perkembangan teknologi yang dahsyat seperti ini kekurangan-kekurangan yang mereka miliki harus disubstitusi dengan kekuatan yang dimiliki teknologi online ini. Sebut saja salah satu koran di Indonesia, Kompas yang tak memandang online sebagai pesaing.

Untuk mencegah nubuatan akan matinya media cetak karena online, Kompas justru membuat unit bisnis baru, Kompas.com, demi mendukung keberadaan Kompas. Dengan Kompas.com, penikmat Kompas dapat membaca berita-berita teranyar yang sedang terjadi. Mereka pun bahkan dapat menikmati berita-berita Kompas cetak. Sedangkan untuk menutupi kekurangannya karena tak bisa meng-update berita, maka dalam setiap beritanya, Kompas cetak memberikan link Kompas.com jika pembaca ingin mengetahui update berita tersebut. Dan sampai saat ini, tebukti kedua media tersebut merupakan media yang terpercaya dan memiliki pemasukan yang terbilang besar. Simbiosis mutualisme yang menguntungkan bukan?

Konvergensi media yang dilakukan oleh Kompas merupakan salah satu contoh yang dapat dilirik oleh media cetak lainnya. Mereka akan tetap dapat bertahan hidup jika menjadikan konvergensi media sebagai sahabat bukan musuh. Mengikuti perkembangan teknologi merupakan salah satu langkah penting untuk menyelamatkan hidup sebuah media konvensional ini.

Jadi, wahai media cetak, janganlah jauhi media online. Rangkullah ia dan jadikan ia sebagai senjata pamungkas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar