Rabu, 05 Mei 2010

Andrea Laksmi - 07120110029

Waktu silih berganti, seiring dengan menapaki semester yang lebih tinggi. Beberapa dosen mampir dan mencoret-coret hidup kami dengan setumpuk ilmu dan tugas yang memburu. Beberapa wajah menjadi akrab pada pertemuan semesternselanjutnya, tetapi sisanya hanya menjadi warna yang kebetulan singgah dalam pertumbuhan intelektualitas kami. Salah satunya mungkin anda, Bapak Bimo Nugroho…

Perkenankan saya, Dea yang hendak berbagi beberapa cerita mengenai anda dan kelas Etika dan Regulasi Media. Pertemuan awal bukan secara sengaja saya tidak hadir, hujan yang deras sepanjang Jakarta menuju Tanggerang membuat saya undur diri untuk mengikuti dua kelas hari itu dengan menggunakan sepeda motor. Kesan pertama yang saya tangkap saat mengikuti pertemuan kedua ialah MENARIK. Bukan hanya karena anda mirip dengan seorang keponakan laki-laki Ratu Seon Doek dari Korea yang cerdas, namun kesulitan menghafal nama seseorang, tetapi karena cara mengajar anda yang berbeda.

Bukan pertama kali saya dan teman-teman diajar oleh praktisi yang tidak pernah mengajar sebelumnya, hanya saja dengan anda saya temukan keunikan. Misalnya saat kita menciptakan suasana diskusi informal membuat lingkaran. Ini baru pertama kali saya dan teman-teman Ilkom Jurusan Jurnalistik 2007 merasakan pengalaman ini. Namun harus syia akui bahwa dari diskusi yang terkesan santai, saya mendapatkan banyak hal. Bila boleh awalnya saya agak mencibir keberadaan KPI karena beberapa kasus yang pernah ditanggapi oleh KPI. Ternyata setelah berhadapan dengan salah satu pengurusnya, saya rasa nilai objektifitas itu mulai muncul meskipun kinerja KPI belum mampu memuaskan saya.

Saya rasa dari cara mengajar anda yang unik, tidak menjadi suatu masalah yang menghambat kami untuk mendapatkan pengetahuan. Justru saya menikmati diskusi itu dan merasa mendapat ’sesuatu’. Saya juga cukup terkejut, untuk orang yang sekaliber anda(menurut pendapat saya) menyarankan untuk tidak membaca secara keseluruhan namun hanya pengantar, kesimpulan, dan penutup. Saya juga sependapat dengan ide anda yang meminta kami untuk membaca “Soe Hok Gie Sekali Lagi… Buku Pesta Cinta” karean saya juga mengidolakan Soe Hok Gie.

Menurut saya semua berjalan lancar, hanya saja yang menjadi masalah adalah UTS. Sebelumnya anda meminta kami untuk membuat soal, namun tidak ada satu pun soal yang kami buat anda keluarkan. Itu menimbulkan pertanyaan besar buat saya. Lalu untuk apa kami membuat soal? Yang kedua ialah ketika kami diminta untuk menganalisis soal di mana waktu yang menjadi musuh utama kami. Dengan tidak sejalannya dengan kisi-kisi membuat kami harus menelaah soal dari awal dan waktu yang minim, bila boleh saya menyampaiakan uneg-uneg menurut saya untuk soal analisis seperti UTS lebih baik menggunakan take home test. Bukan melihat dari faktor kemudahan yang diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi dilihat dari faktor sistematis, komprehensif analisis tersebut.

Menurut saya akan lebih adil, karena rentang waktu yang lebih panjang, mahasiswa sudah mengamati soal terlebih dahulu, dan sudah memperoleh data-data yang mendukung untuk membuat suatu analisis. Di sisi lain anda juga tetap bisa memberlakukan peraturan untuk menyajikan hasil pemikiran melalui kata-kata sendiri dan sebagai bagian dari checklist, anda bisa meminta mahasiswa untuk menyertakan daftar referensi buku ataupun sumber –sumber dari internet untuk mencegah plagiatisme.

Menurut saya ujian tersebut jauh lebih efektif baik nilai maupun pemahaman bagi mahasiswa. Saya rasa sekian pendapat yang saya ungkapkan untuk anda. Kritik ini bukan bersifat menyerang pribadi hanya untuk mengkoreksi beberapa kesalahpahaman yang kiranya akan membuat hubungan belajar-mengajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar