Rabu, 05 Mei 2010

Albertus Magnus Prestianta - 07120110006

Cerita di Balik Kelas Mas Bimo

Nama saya Albertus Magnus Prestianta. Saya mahasiswa program studi ilmu komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). UMN resmi berdiri pada tanggal 20 November 2006 dengan Rektor Universitas Prof. Yohanes Surya. Jika dilihat dari umurnya, universitas ini baru seumur jagung. Dari sejak universitas ini berdiri hingga sekarang baru terdapat tiga angkatan dan saya adalah salah satu mahasiswa dari angkatan yang pertama, bisa di bilang sebagai pionir. Nah, yang jadi pertanyaan adalah kenapa saya memilih UMN? Padahal kita tahu bahwa UMN baru saja berdiri dan belum mempunyai akreditasi serta lulusan.

Sebuah pertanyaan yang sederhana namun bisa memutar otak untuk menjawabnya. Awal mulanya, saya tidak tertarik dengan dunia komunikasi apa lagi jurnalistik. Dulu, saya bercita-cita untuk menjadi orang yang ahli dalam dunia pertambangan dan usaha saya untuk menggapai cita-cita itu adalah dengan mencoba masuk Universitas Indonesia memilih metalurgi. Saya ikut tes ujian masuk, namun saya tidak berhasil lolos. Saya sempat bingung dan saya tidak tahu mau kuliah apa dan dimana padahal sebentar lagi tahun ajaran baru akan dimulai.

Di tengah kebingungan yang melanda diri saya saat itu, tiba-tiba bapak saya datang kepada saya dan berkata, "ta, ini ada universitas baru coba deh kamu baca-baca dan cari informasi terus mendaftar." Saya masih ingat sekali perkataan bapak saya itu. Sesuai yang di sarankan beliau, saya kemudian mencari informasi terkait universitas tersebut. UMN hanya membuka empat fakultas, yaitu fakultas komunikasi, fakultas seni dan desain, fakultas teknologi informasi dan fakultas ekonomi. Bapak saya menganjurkan saya memilih komunikasi dan kebetulan saya dari ke empat fakultas yang ada saya lebih tertarik dengan komunikasi. Di balik itu semua yang menjadi pertimbangan saya termasuk orang tua saya dan sejumlah orang adalah UMN merupakan universitas yang didirikan oleh kelompok usaha Kompas Gramedia. Sebuah nama besar yang menjadi lebel dan memiliki nilai jual. Nama Kompas Gramedia seakan-akan menjadi pembawa bunga di garis depan yang digunakan sebagai alat untuk menarik minat para calon mahasiswanya. Kompas Gramedia dianggap sebuah perusahaan yang berhasil serta dipercaya oleh banyak orang karena kredebilitasnya sehingga saya berminat untuk bergabung. Akhirnya saya diterima dan masuk di univeritasi ini.

Menjadi mahasiswa angkatan pertama memang sebuah ujian yang berat bagi saya dan universitas ini. Saya percaya saya mampu dan saya percaya pada lembaga ini bahwa akan memberikan yang terbaik bagi mahasiswanya. Memang semua perlu usaha dan kerja keras yang lebih dan di balik semua itu tentu ada hasil yang bisa kita petik. Suatu keberhasilan datang dan dimulai dari dalam diri kita sendiri. Semua sudah ada jalannya dan kita harus berusaha yang terbaik.

Sekarang saya sudah semester 6, sudah hampir 3 tahun saya bergabung dengan UMN dan sudah banyak hal yang saya lalui dalam manjadi bagian dari keluarga besar UMN. Selama 6 semester ini, sudah banyak materi perkuliahan yang saya konsumsi, tentunya semua itu berhubungan dengan komunikasi. Mata kuliah yang saya ambil semuanya cukup menarik dan seru. Semua mata kuliah punya keasikan tersendiri. Di balik setiap mata kuliah tentunya ada faktor lain yang juga turut mempengaruhi jalannya proses transformasi pesan. Faktor tersebut, tak lain tak bukan, adalah dosen pengajar. Dosen yang mengajar materi perkuliahan tentunya memiliki pengaruh dalam mendistribusikan materi pelajaran. Komunikasi yang baik perlu dijalin di sini. Sehingga apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik dan tentunya dapat digunakan dengan baik pula nantinya.

Di semester 6 ini saya bertemu sejumlah mata kuliah baru yang tentunya masih asing bagi saya, salah satunya adalah etika, hukum media massa dan kebijakan. Gambaran awal saya tentang mata kuliah ini adalah saya akan belajar pasal-pasal seputar media massa dan kuliahnya pasti membosankan karena banyak sekali teori. Keadaan akan semakin dimenyenangkan apa jika dosen yang mengajar juga membosankan. Tapi kalau tidak dicoba saya tidak akan tahu apa-apa.

Pertama kali masuk kelas etika, hukum media massa dan kebijakan, kalau tidak salah, hari Kamis, tanggal 25 Februari 2010. Karena saya dan teman-teman sudah terbiasa menyambut kuliah baru dan dosen yang baru jadinya kami tidak terlalu deg-degan ketika harus masuk di kelas yang baru.

Saat melangkahkan kaki masuk ke kelas saya melihat seorang pria duduk di depan kelas dan menunggu. Saat itu juga saya mengetahui bahwa pria itu adalah dosen saya. Saya duduk dan kemudian memperhatikan sejenak pria yang akan menjadi dosen saya itu. Pria ini berperawakan sedang dengan tinggi sekitar 170 cm dan usia antara 40-50 tahun.

Akhirnya kelas dimulai, pria berkacamata ini kemudian angkat bicara dan menyapa kami. Sebelum memperkenalkan diri beliau meminta kami untuk mengubah posisi duduk dari barisan pararel menjadi duduk membentuk lingkaran. Awalnya saya bertanya-tanya, dan agak canggung dengan keadaan seperti ini. Lalu, beberapa saat kemudian beliau menjelaskan bahwa dengan duduk melingkar seperti itu kita akan lebih mudah berdiskusi dan saling bertukar pikiran.

Setelah panjang lebar memperkenalkan diri, akhirnya saya tahu nama dosen saya ini. Bimo Nugroho, demikian nama lengkapnya. Beliau lebih akrab dipanggil dengan sebutan mas Bimo.

Pada hari pertama kuliah, mas Bimo meminta salah seorang dari kita untuk membuat daftar nama mahasiswa di kelas jurnal 07. Akhirnya mas Bimo menunjuk Retti untuk membuatkan daftar nama tersebut beserta foto dari masing-masing mahasiswa. Kuliah pada hari pertama sepenuhnya berisikan perkenalan dan obrolan seputar latar belakang masing-masing individu. Sebab ada pepatah mengatakan, "tak kenal maka tak sayang", agar komunikasi di dalam kelas dapat berjalan dengan lancar, maka antara dosen dan mahasiswa haruslah saling mengenal. Sehingga proses transformasi pesan dapat berjalan dengan lancar.

Pada pertemuan kedua dan ketiga, masih dengan duduk melingkar, kita belajar materi yang diberikan oleh mas Bimo seputar etika penyiaran. Pada kesempatan itu pula mas Bimo memberikan sejumlah buku referensi. Buku dikeluarkan dan diletakkan di atas meja, sontak membuat mata saya terbelalak. Dalam hati saya berkata, "gila bukunya banyak amat, hadeeh."

Pada pertemuan ke empat sampai ke enam, mas Bimo mengajak kita untuk berdiskusi seputar kejadian yang hangat terjadi di Indonesia, seperti penggerebekan teroris Dulmatin yang ditembak mati dan sempat disiarkan di televisi secara langsung, diskusi seputar kasus Century dan membahas P3/SPS, Kode Etik Jurnalistik, UU Pers. Kita juga membahas perbedaan antara bioskop dan televisi. film di bioskop bisa lebih terbuka (vulgar), seperti adegan panas, adegan berciuman, adegan kekerasan yang berdarah-darah bisa dengan mudah ditampilkan sedangkan film-film yang diputar di televisi, walaupun filmnya adalah film yang sama adegan tersebut harus di sensor.

Pada salah satu pertemuan, saya lupa yang mana, ada hal lucu yang sampai sekarang masih saya ingat dan masih tetap menggelitik perut. Saat kuliah, mas Bimo sedang bicara, dan tiba-tiba ada salah satu teman, Istman, yang tanpa sadar "menggali lubang" (baca: ngupil). Ketika melihat itu mas Bimo menegur. "Istman, kamu suka ngupil ya?" Tegur mas Bimo. Spontan semua mata tertuju pada Istman, dan masih mendapati Istman yang masih asik mengupil. Sontak kami tertawa melihatnya. (Mohon maaf kepada Istman. Tulisan ini tidak mengandung maksud buruk hanya sebatas bercanda).

Pada pertemuan ke tujuh, pertemuan terakhir sebelum UTS, mas Bimo menyuruh kita untuk membuat 10 soal untuk UTS. Tujuan mas Bimo adalah tidak mau menyusahkan mahasiswanya. Mas Bimo bilang kalau kita harus sama-sama adil dan sama-sama enak. Dari kesepuluh soal yang dibuat kita wajib mengerjakan tiga soal yang telah dipilihkan dan mengerjakan dua soal bebas.

Ujian tengah semester pun tiba. Senin berganti Selasa, Selasa berganti Rabu, ujian satu persatu terselesaikan. Akhirnya hari Kamis pun tiba. Ujian etika dimulai pukul 13.00 WIB setelah ujian produksi program radio. Menjelang ujian, kita sempat berdiskusi seputar soal yang telah dibuat. Kita membentuk kelompok dan belajar dibawah tangga di lantai satu. Kemudian mas Bimo datang menghampiri dan ikut bergabung bersama kami.

Tiba-tiba mas Bimo membuka amplop ujian dan mengeluarkan salah satu soal. Ketika dibaca ternyata soalnya salah. Di soal tersebut tercantum nama dosen, tertulis Bimo Nugroho akan tetapi soal yang termuat di kertas tersebut adalah soal sosiologi komunikasi. Mas Bimo kemudian menuju ke BAAK untuk mengecek dan melaporkan kejadian tersebut. Ujian pun tertunda.

Ujian sempat tertunda kurang lebih 30 menit. Lalu mas Bimo masuk dengan membawa soal baru yang telah disediakan sebagai soal cadangan. Soal pun dibagikan. Mas Bimo menjelaskan tata cara pengerjaan ujian. Ujian bersifat open book dan mas Bimo memperbolehkan kita untuk mengerjakan ujian dimana saja termasuk di perpustakaan. Dan yang paling membingungkan, sekaligus mengejutkan, kita diperbolehkan untuk berdiskusi ketika mengerjakan ujian tersebut. Saya bingung karena saya baru pertama kali mengerjakan soal ujian tetapi boleh berdiskusi dengan teman. Buat saya ini adalah hal yang unik sekaligus menarik dan tentu saja menyenangkan. Tentunya jawaban dari masing-masing anak tidak boleh sama.

Ujian dimulai, kami hanya diberi waktu dua jam untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Karena takut tidak selesai, begitu Mas Bimo memperbolehkan kita untuk mulai, teman-teman lari berhamburan keluar kelas menuju ke perpustakaan, sedangkan beberapa dari kami tetap tinggal di kelas termasuk saya.

Saya, nita, steffi, susan, devi dan grace mengerjakan di dalam kelas. Mas Bimo juga tetap tinggal di kelas sampai ujian berakhir. Awalnya kami berdiskusi lalu setelah itu kita diam dan sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Tak lama berselang, tiba-tiba ada seseorang masuk dan bertanya, "ini ujian pak?" Suara tersebut mengubah perhatian kami semua yang ada di kelas. Kemudian semua mata tertuju pada seorang wanita yang belakangan saya ketahui bahwa dia adalah ibu Fiani, kepala BAAK yang baru.

"Iya, ini sedang ujian," jelas mas Bimo. Mungkin bu Fiani kaget dengan kadaan kelas, sebab kelas sepi dan kami mengerjakan ujian secara melingkar dan berdiskusi. Kemudian bu Fiani memanggil mas Bimo keluar, mungkin untuk menjelaskan keadaan tersebut. Karena kami takut tidak selesai maka kami kembali fokus pada pekerjaan kami, mencoba tidak menghiraukan kadaan yang terjadi.

Waktu ujian pun habis, dua jam terasa singkat sekali, dan semua lembar jawaban dikumpulkan selesai maupun tidak selesai. Beberapa dari kami ada yang belum selesai atau merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berserah dan menerima hasil dari apa yang telah dikerjakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar